Senin, 27 Februari 2012

Ikan Sidat Indonesia Diincar Jepang

Benar jika dikatakan bahwa kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia. Benih ikan sidat yang bisa hidup di air tawar dan asin itu ternyata menjadi incaran pengusaha perikanan Jepang karena harganya yang terbilang wah dan bisa mengucurkan yen ke kantong. Ambil contoh, ikan sidat jenis marmorata. Untuk membeli satu kilogramnya saja, Anda harus menyediakan uang setidaknya Rp 300.000. Namun, ada juga 5 jenis ikan sidat lainnya yang salah satunya dijual seharga Rp 150.000 per kg, yakni jenis bicolor. Benihnya banyak ditemukan di perairan Palabuhan Ratu, Jawa Barat. Sampai saat ini, manusia belum bisa melakukan pemijahan terhadap benih ikan sidat tersebut. Pasalnya, ikan ini mensyaratkan pemijahan dilakukan di perairan laut dalam setelah benur lahir dan menjadi benih. Biasanya anakan sidat akan berenang ke muara sungai. Di muara sungai itulah ikan itu besar sampai kemudian datang masa pemijahan lagi. “Jepang yang memiliki teknologi tinggi pun sampai sekarang belum bisa melakukan pemijahan tersebut,” papar Made Suita, Kepala Balai Pelayanan Usaha (BLU) Tambak Pandu, Karawang, Minggu (14/3/2010). Alhasil, untuk pembudidayaan ikan sidat tersebut, benih harus didatangkan dari alam. Beberapa daerah yang sudah memiliki sebaran tersebut adalah perairan Poso, Manado, selatan Jawa terutama perairan Palabuhan Ratu, dan perairan di barat Sumatera. Namun, tidak semua daerah itu benihnya bisa dimanfaatkan karena banyak nelayan yang belum mengerti cara untuk menangkapnya. Made menyebutkan, nelayan yang sudah memiliki kemampuan untuk menangkap benih sidat itu baru nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Wilayah ini memiliki palung dan muara sungai yang mengalir ke laut.

Nurdin selaku Kepala Bagian Budidaya di BLU Pandu Karawang bilang, kini sudah ada yang mengomersialkan keberadaan benih itu, terutama nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Mereka sudah mengetahui potensi pasar benih ikan sidat, yang satu kilogramnya atau sekitar 5.000 benih dijual seharga Rp 150.000 per kg. Pembelinya pun kebanyakan datang dari Taiwan, Korea, China, Vietnam, dan tentunya Jepang. Namun sebagian masyarakat Indonesia belum mengerti keberadaan bibit ikan sidat tersebut. Di Poso dan Manadi, misalnya, benih ikan sidat tersebut bahkan dijadikan ikan yang digoreng dengan rempeyek. Menurut Nurdin, ketika warga tidak mengetahuinya, ikan sidat itu menjadi ikan biasa seperti teri.

Pembeli benih ikan sidat dari berbagai negara kini sudah banyak mengincarnya. Sementara itu, pembeli benih domestik hanya memanfaatkannya untuk kebutuhan budidaya yang ada di Karawang, Cirebon, dan Indramayu. Yang menyulitkan bagi pembudidaya di dalam negeri adalah mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor. Adapun di pasar dalam negeri, mereka tidak bisa berharap banyak karena konsumen domestik tidak menyukai ikan sidat dan juga karena harganya yang mahal.

“Untuk membudidayakannya juga ada persyaratan jika ingin ekspor ke Jepang sehingga pembudidaya ikan sidat sulit untuk ekspor ke sana,” kata Nurdin. Salah satu cara untuk bisa menembus pasar Jepang adalah dengan menjalin kerja sama terhadap perusahaan Jepang yang sebelumnya sudah berbisnis ikan sidat.
Nurdin bilang, ikan sidat cukup mahal karena proses perawatannya yang membutuhkan waktu lebih panjang, yakni 3-4 bulan. Adapun pakan utamanya adalah pelet dengan protein tinggi yang dijual seharga Rp 9.000 per kg. Selain itu, ikan juga butuh pakan tambahan berupa keong mas yang sudah dipotong-potong. Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan sidat membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Adapun tingkat kehidupan rata-rata ikan sidat tersebut mencapai 75 persen dari bibit yang ditebar. “Jika ingin detailnya, maka silakan datang ke BLU Tambak Pandu Karawang. Kami akan berikan informasi detailnya,” undang Nurdin.

Saat ini di BLU Pandu Karawang terdapat mitra kerja sama dari Jepang, yakni Asama Industry Co Ltd. Mitra ini bekerja sama dengan PT Suri Tani Pemuka yang melakukan kerja sama untuk memproduksi ikan sidat di BLU Pandu Karawang. Ikan sidat yang sudah diproduksi tersebut bisa diekspor langsung ke Jepang karena sudah ada yang menampung. Sayang, Made tidak mau menyebutkan angka ekspor dari perusahaan mitranya tersebut. Hal yang dibutuhkan oleh pembudidaya ikan sidat adalah membuka kerja sama dengan pemasok ikan sidat yang ada di pasar dunia. Menurut Made, pasar yang sangat menarik dan belum banyak disentuh adalah pasar ikan sidat untuk kebutuhan non-Jepang. “Yang mengonsumsi itu tidak hanya Jepang. Taiwan, Korea, dan China juga sangat menyukai ikan ini,” ungkap Made.
Butuh proteksi ekspor benih
Masalah yang dihadapi oleh pembudidaya ikan sidat ini adalah masalah daya saing yang ketat dengan negara produsen lainnya. Negara yang sudah mengembangkan budidaya ikan sidat ini adalah Vietnam dan Korea, demikian juga dengan Jepang sendiri. Anehnya, kata Made, budidaya di dua negara tersebut mendapatkan benih ikan sidat dari Indonesia. Padahal, kata Made, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memproteksi ekspor benih ikan sidat dengan alasan guna melindungi spesies dan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. “Namun, pembudidaya ikan sidat di Jepang itu sendiri ternyata adalah orang Indonesia,” ungkap Made. Termasuk yang ada di Korea dan juga Vietnam, benih ikan sidat itu diindikasi berasal dari Indonesia. Made mengindikasi bahwa banyak benih ikan sidat dari Indonesia berseliweran keluar negeri dan dibudidayakan di luar negeri. “Kontainer saja yang besar bisa diselundupkan, apalagi benih yang kecil ini,” ujar Made. Jika penyelundupan benih itu bisa diatasi, maka produksi ikan sidat dari budidaya di dalam negeri bisa sangat diandalkan sebagai nilai tambah bagi pembudidaya di dalam negeri, termasuk menambah devisa negara. 
Kompas.com, 17 Maret 2010

Ikan Hias, Primadona Ekspor Masa Depan

JAKARTA: Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI) menargetkan produksi ikan hias pada tahun ini mencapai 3 miliar ekor, salah satu produk ekspor yang berprospek bagus. Ketua DIHI Suseno mengatakan saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-3 di dunia sebagai eksportir ikan hias dengan pangsa pasar sebesar 7,5%.
“Posisi itu di bawah Singapura dan Malaysia yang masing-masing berturut-turut sebesar 22,5% dan 11%,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Bisnis, hari ini. Ekspor ikan hias Indonesia pada 2010 telah mencapai US$12 juta atau naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$10 juta.

Pada tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi untuk ikan hias sebesar 3 miliar ekor. Produksi ikan hias pada 2014 ditargetkan mencapai 8 miliar ekor. Menurut dia, target produksi ikan hias yang cukup besar ini dilandasi atas potensi sumber daya ikan hias Indonesia dengan 400 spesies ikan air tawar dari 1.100 spesies yang ada di dunia berada di perairan Indonesia atau sebesar 40%. Selain itu, jumlah ikan hias air laut yang berjumlah 650 spesies atau sebesar 30%, sedangkan yang baru diperdagangkan sekitar 200 spesies.

Suseno yang juga staf ahli Menteri KP Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya mengatakan ikan botia merupakan primadona ekspor ikan hias asli Indonesia yang mempunyai nama daerah ikan bajubang. Ikan itu, kata dia, hanya bisa dijumpai di dua tempat di Indonesia yakni Sungai Batanghari, Jambi dan Sungai Barito, Kalimantan. Ikan botia juga menjadi salah satu komoditas unggulan di Indonesia serta termasuk ikan favorit dan memiliki banyak penggemar di luar negeri. Untuk memenuhi permintaan pasar ekspor ke berbagai negara tersebut, maka benih ikan Botia diproduksi secara massal di Lokal Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT) Depok dengan produksi sampai 50.000 ekor per bulan. 

Sumber : bisnis-jatim.com

Selasa, 20 Desember 2011

Alasan dan Harapan Bersama Perikanan (PSP) serta Cita-cita


Dari semua pertanyaan yang ditujukan kepada saya dalam rangka pemenuhan tugas dari Pak Faik tentang alasan kuliah di perikanan dalam hal ini PSP, harapan di prodi tersebut, serta setelah lulus mau kerja dimana, saya akan mencoba memberikan jawaban semampu saya satu persatu.^^

1.      Alasan kuliah di perikanan?
Jujur, pertama kali saya ditanya soal ini saya selalu bingung. Mengapa? karena pertama kali saya memilih prodi ini dalam pilihan SNMPTN, semata-mata karena saya tidak mau berurusan lagi dengan yang namanya angka dan matematika. hehehe. Namun, setelah 2 semester yang terlewatkan saya menyadari betul akan pentingnya dunia perikanan bagi negara tercinta ini. Pandangan saya yang semula hanya memandang sebelah mata tentang kata “perikanan”  ternyata salah besar. Dunia perikanan ini begitu luas. terlebih negara kita yang sebagian besar terdiri dari lautan, dapat dibilang sangat membutuhkan perikanan. Di dunia perikanan tidak hanya mempelajari tentang ikan, namun juga  mempelajari  tentang segala macam aspek-aspek kehidupan yang saling berkaitan antara makhluk hidup akuatik, lingkungan, dan ekonomi kemasyarakatan. Dan satu hal yang penting mengenai dunia perikanan dan kuliah perikanan khususnya di UNDIP, perikanan ternyata lebih rumit dari sekedar matematika. wkwkwkwkwk

2.      Harapan perikanan (PSP)?
Harapan saya terhadap perikanan khususnya PSP ini adalah agar masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata akan perikanan yang berlanjut dengan tindakan-tindakan pengacuhan terhadap keadaan perikanan dan laut di Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki prospek perikanan yang bagus dan melimpah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Saya yakin melalui perikanan negara tercinta ini dapat berkembang menjadi negara maritim yang benar-benar maju akan pemanfaatan serta kualitas produk perikanannya.

3.      Setelah lulus mau bekerja dimana? Perikanan atau luar dunia perikanan?
Selama kuliah 2 semester di perikanan UNDIP, saya belum dapat menjawab pertanyaan ini. Jujur, saya belum ada gambaran mengenai hal tersebut. Akan tetapi saya sering mempertanyakan hal ini kepada teman-teman saya. Namun hasilnya adalah sama saja. hehehe.
Pada saat perjalanan pulang dari Praktikum Rancang Bangun Kapal Perikanan di Batang, saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada kakak angkatan 2009, Mbak Indri. Dia satu-satunya orang yang dapat menjawab pertanyaan tersebut secara terperinci dan yakin kepada saya. Dia memaparkan cita-citanya pertama kali yang terbayang adalah menjadi supervisor pada kapal perikanan. Namun cita-cita tersebut ditinggalkannya karena mengingat pekerjaan tersebut terlalu berat dan beresiko untuk wanita. beliau juga menjelaskan bahwa menjadi supervisor pada kapal perikanan dibutuhkan tanggung jawab yang besar serta ketelitian dan kejujuran yang tinggi. Mendengar pernyataan tersebut tiba-tiba ada perasaan dari diri saya bahwa ini adalah pekerjaan yang pantas buat saya yang suka akan tantangan dan diperlukan tanggung jawab yang besar. Menjadi supervisor kapal perikanan adalah keinginanku untuk sekarang ini dan semoga saja dapat terwujud. Namun apabila besok mendapatkan pekerjaan yang berada di luar lingkup perikanan. . . . mau bagaimana lagi. Asalkan pendapatannya pantas untuk seorang sarjana.^^

Minggu, 11 Desember 2011

KONDISI PERIKANAN INDONESIA SAAT INI

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih kurang 17.000 buah pulau dengan luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2 .  Berdasarkan posisi geografisnya, negara Indonesia memiliki batas-batas sebagai berikut :
- Utara : Negara Malaysia, Singapura, Filipina, Laut Cina Selatan.
- Selatan : Negara Australia, Samudera Hindia.
- Barat : Samudera Hindia.
- Timur : Negara Papua Nugini, Timor Leste, Samudera Pasifik.


Letak geografisnya, kepulauan Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dengan demikian, wilayah Indonesia berada pada posisi silang, yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian. Sedangkan letak astronomis Indonesia terletak di antara 6oLU – 11oLS dan 95oBT – 141oBT. Dari letak astronomis dan geografis Indonesia memiliki pengaruh besar pada bidang perekonomian dan perikanan. ini bisa kita lihat dari tingginya keanekaragaman biota laut di Indonesia. tetapi saat ini sudah sangat berbeda dengan dahulu.


Beberapa perairan di Indonesia Sudah mengalami Over Fishing. Zainal Arifin dari pusat penelitian Oseanografi LIPI mengatakan beberapa wilayah yang mengalami over fishing atau penangkapan berlebihan. "Di laut Jawa, Selat Malaka dan Selat Karimata. Tahun ini ada kemungkinan Laut Arafura juga mengalami kelangkaan karena over fishing," ucapnya saat dihubungi Media Indonesia, Senin (10/5). Sayang, dirinya tak bisa menyebutkan jenis-jenis ikan apa saja yang sudah langka di daerah tersebut. Kian padatnya jalur penangkapan ikan di area-area yang disebutkan Zainal menjadi penyebab utama kelangkaan ikan di wilayah tersebut. "Walaupun perubahan seperti hutan mangrove yang beralih fungsi menjadi tambak dan polusi yang banyak disebutkan industri-industri di utara Jawa juga berpengaruh," imbuh Zainal. Perubahan iklim, lanjutnya, juga akan mengambil peranan penting seputar kelangkaan ikan di perairan Indonesia. "Lima hingga 10 tahun mendatang, perubahan iklim berpotensi memperburuk kondisi sumber daya ikan di laut Indonesia," tandasnya. 



Sebelah selatan Pulau Jawa menjadi area yang dinilai Zainal masih memiliki sumber daya ikan dalam jumlah aman. Dalam kacamata Zainal, hal ini disebabkan lantaran peralatan yang digunakan para nelayan di wilayah itu masih relatif sederhana. "Di sebelah selatan para nelayan tidak bisa melaut terlalu jauh karena keterbatasan alat," kata Zainal. (BBC/*/OL-7)

Sumber :Media Indonesia

Selasa, 06 Desember 2011

LAGU NELAYAN

Tak kan ada ikan gurih di meja makan
Tanpa ada jerih-payah nelayan
Daging ikan sumber gizi bermutu tinggi
Diperlukan semua manusia

Tiap malam mengembara di lautan
Ombak badai menghadang dan menerjang
Pak nelayan tak gentar dalam darmanya
Demi kita yang membutuhkan pangan
Terima kasih pak nelayan

Sebuah lagu yang dipersembahkan khusus untuk para nelayan di seluruh nusantara. Lagu yang singkat namun penuh makna, menggambarkan perjuangan seorang nelayan demi kebutuhan kita.

Di era '90an , lagu ini sering sekali diputar di stasiun TV nasional kebanggaan bangsa, TVRI. Lagu ini saya dengar sejak saya masih kecil. Lagu ini pula yang membangkitkan kecintaan saya terhadap dunia perikanan. Sampai saat ini saya tidak tahu siapa pencipta lagu ini. Bahkan saya tidak menemukan lagu ini dalam bentuk file audio digital (.mp3). Apabila ada diantara pembaca yang mengetahuinya, mohon beritahu saya via komentar anda. Terima kasih...

NELAYAN TRADISIONAL KIAN TERSISIH

AMBON, KOMPAS - Nelayan tradisional di Ambon, Maluku, yang menggunakan alat tangkap ikan huhate, semacam alat pancing, kian tersisih. Mereka kalah bersaing dengan nelayan yang menggunakan jaring. Peter (41), salah seorang nelayan tradisional di Galala, Ambon, Minggu (21/2), mengatakan, nelayan dengan alat tangkap jaring kebanyakan nelayan asing yang berasal dari Filipina. Mereka kerap beroperasi di perairan tempat nelayan tradisional Ambon biasa mencari ikan, misalnya di perairan Seram, Buru, Bitung, dan Banda.
Dengan menggunakan jaring, mereka dapat menangkap ikan tiga sampai empat kali lipat lebih banyak daripada yang bisa ditangkap nelayan tradisional. Dampaknya, nelayan tradisional hanya mendapat sisanya yang jumlahnya tergolong sedikit.

”Sekali melaut (dua hari sampai lima hari), nelayan Ambon hanya bisa menangkap ikan cakalang, sejenis ikan tongkol, 500 kilogram sampai 2 ton. Jumlah itu jauh di bawah hasil tangkapan sebelum tahun 1980, yang minimal 2 ton sekali melaut,” papar Peter. Yonas (43), nelayan yang memiliki enam perahu di Galala, mengungkapkan, tidak hanya nelayan asing yang membuat nelayan lokal terancam. Sejumlah perusahaan nasional yang mengoperasikan perahu dengan alat tangkap jaring untuk menangkap ikan di perairan Maluku juga mengundang resah. Perusahaan seperti itu, lanjut Yonas, tidak sedikit yang menyewa orang Filipina yang terbiasa menangkap ikan dengan jaring. ”Di sisi lain, nelayan tradisional Ambon enggan menggunakan alat tangkap jaring karena tidak terbiasa,” katanya.

Tak dioperasikan
Kondisi yang demikian, kata Peter, Yonas, dan beberapa nelayan tradisional Galala lainnya, menyebabkan mereka memilih tidak mengoperasikan perahunya. Hal itu disebabkan biaya operasi yang dikeluarkan nelayan tidak sebanding dengan hasil tangkapan. Sekretaris Jenderal Lembaga Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik mendesak pemerintah menerbitkan regulasi guna melindungi perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan tradisional. Negara lain yang bertumpu pada perikanan, seperti Jepang, katanya, sangat melindungi nelayan dengan regulasi. Regulasi seperti itu dinilai perlu, terutama jika pemerintah ingin tetap menjadikan Maluku sebagai lumbung perikanan. ”Apalagi jika ingin Indonesia menjadi produsen ikan terbesar di dunia tahun 2012. Saat ini, Indonesia menduduki posisi keempat. Posisi pertama ditempati oleh China, lalu Peru, dan terakhir Amerika Serikat,” kata Riza.

Target sebagai produsen ikan terbesar tidak akan tercapai jika pencurian ikan dan penangkapan ikan secara besar-besaran tanpa memerhatikan keberlanjutan produksi ikan, seperti sekarang ini, terus terjadi. ”Yang terjadi pada akhirnya nelayan tradisional kian terpuruk,” ujar Riza.

Tak sependapat
Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual, Maluku, Joko Supraptomo tidak sependapat jika dikatakan tangkap jaring tidak memperhatikan keberlanjutan produksi ikan. ”Hal itu tinggal tergantung dari ukuran mata jaringnya. Ukuran ini pun ada aturannya sehingga jaring tidak menangkap ikan kecil,” ujarnya. Joko berpendapat, nelayan tradisional bukan tidak bisa beralih ke alat tangkap jaring. ”Mereka lebih memilih huhate karena sudah turun-temurun menggunakannya sehingga sulit beralih ke jaring,” katanya. (APA)
sumber: KOMPAS

AYO MAKAN IKAN !!

Dalam dunia ekonomi, selalu ada hukum permintaan dan penawaran barang. Apabila permintaan tinggi dan hanya mampu disupply dengan penawaran yang sedikit, maka harga barang akan melambung. Hal sebaliknya terjadi, permintaan yang rendah dengan supply yang tinggi akan menyebabkan turunnya harga di pasaran. Dunia perikanan pun juga akan bermuara kepada hukum ekonomi di atas. Jumlah permintaan akan daging ikan yang rendah di pasaran tentunya akan berdampak pada rendahnya harga ikan di pasar.
 
Melalui polling terbuka di blog ini selama satu bulan diketahui bahwa konsumsi ikan pembaca  masih terlihat kurang. Dari 12 orang responden yang mengikuti polling, hanya sekitar 3 orang pembaca yang mengkonsumsi ikan lebih dari tujuh kali dalam seminggu. Ini berarti hanya sekitar 25 % dari jumlah keseluruhan peserta survey. Walaupun jajak pendapat ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dan tidak bisa dijadikan bahan acuan secara faktual, akan tetapi bisa jadi ini gambaran umum para bagi pembaca sekalian.

Kalau kita jadikan hasil survey sebagai bahan acuan sementara tulisan ini, maka dapat diasumsikan bahwa permintaan masyarakat akan daging ikan masih rendah. Terbukti dari polling, dimana para pembaca yang melakukan jajak pendapat lebih banyak mengkonsumsi ikan kurang dari 3 kali dalam sepekan. Entah faktor apa yang mempengaruhi minimnya tingkat konsumsi ikan di masyarakat.

Faktor kebiasaan mungkin bisa jadi salah satunya. Masyarakat Indonesia yang umumnya tinggal di daratan pasti lebih familiar dengan daging hasil ternak, seperti: Ayam, Kambing dan Sapi. Sedangkan masyarakat kita yang tinggal di pesisir barangkali lebih sering mengkonsumsi daging ikan.

Ada juga beberapa orang teman saya yang mengatakan, 'ah, ribet makan ikan! abis banyak durinya sih!'. Memang betul, bentuk tubuh ikan yang kecil dan struktur otot yang lebih lembek memaksa ikan untuk memiliki banyak duri dalam dagingnya. Tapi ini tidak sepenuhnya benar, ikan - ikan yang memiliki banyak duri kecil biasanya adalah ikan jenis muara atau berjenis herbivora. Sedangkan untuk ikan laut sendiri, biasanya tidak memiliki duri yang keras dan besar karena struktur daging ikan laut seperti: Tuna dan Cakalang lebih kuat dan berotot.


Jenis variasi olahan dari daging ikan yang masih minim barangkali juga bisa jadi pemicu para ibu - ibu rumah tangga enggan untuk membeli ikan. Padahal, saat ini sudah banyak pabrik pengolahan daging ikan yang 'menyulap' daging ikan yang amis menjadi produk - produk makanan yang lezat. Daging ikan banyak diolah menjadi berbagai bentuk seperti: ikan kalengan, bakso ikan, nugget ikan, ikan fillet, dsb.

Ada informasi yang bisa anda baca disini bila anda sukar makan ikan.

Kurangnya minat masyarakat dalam mengkonsumsi ikan mendorong terjadinya penurunan harga ikan di pasaran. Hal ini akan berakibat efek domino, dimana pada akhirnya adalah penurunan tingkat kesejahteraan nelayan dan meningkatnya akan kemiskinan. Bayangkan oleh anda, nelayan yang berangkat dari pagi hari atau bahkan berangkat malam hari dan menginap di lautan hanya untuk menangkap daging ikan. Sendirian di tengah lautan, hanya ditemani deburan ombak dan dinginnya angin malam. Kadangkala pula lautan tak bersahabat, ikan tak didapat hanya pulang dengan baju basah tersapu ombak. Ini sangat dilematis sekali, perjuangan nelayan mencari ikan yang bertaruh dengan nyawa kadang hanya dibayar murah di pasaran. Harga 1kg ikan mungkin hanya kurang dari Rp 3000,- itu pun belum dipotong untuk biaya operasional penangkapan.

Bagi nelayan - nelayan besar yang punya modal dengan kapal yang lebih canggih (belum tentu modern), biasanya mereka mengakalinya dengan menjual hasil tangkapan kepada para eksportir kelas besar pula. Sudah barang tentu harga jualnya masih bisa fluktuatif, tergantung ketersediaan stok ikan di pasar internasional. 


Tujuan ekspor ikan kita biasanya ke Jepang, China, Eropa dan Amerika. Bukan hanya karena negara - negara tersebut tidak memiliki armada yang memadai, tetapi juga tingginya minat masyarakat disana untuk mengkonsumsi ikan. Sebagai contoh Jepang, negari sakura ini punya banyak nelayan dengan kelimpahan stok ikan yang sangat memadai. Namun itu semua tidak cukup, mereka masih memerlukan supply ikan dari negara kita. Dan saya yakin kita semua pasti tahu bahwa masyarakat Jepang sangat gemar makan ikan segar.

Kegemaran masyarakat akan konsumsi daging ikan tidak selalu harus menunggu seluruh masyarakat sadar pentingnya ikan. Mulailah dari diri sendiri untuk makan ikan, tidak harus dalam jumlah yang banyak tapi cukup. Bila satu keluarga di seluruh Indonesia ini membeli daging ikan seberat 1kg per hari, maka cukuplah sudah meningkatkan kesejahteraan para nelayan.


'Ayo ibu - ibu, segera ke pasar dan beli daging ikan!'

sumber gambar: Google